Cerita Sebelumnya:
POHON KENANGA DI DEPAN RUMAH (Bagian 4)
Samar-samar dalam tidurku aku mendengar orangtuaku berteriak marah mencariku. Mungkin karena masalah pohon kenanga itu, pikirku. Benar. Terjadilah pertengkaran antara aku dan orangtuaku yang selama ini tidak pernah terjadi di antara kami. Semua perkataan mereka kubantah. Aku sendiri heran, darimana kudapatkan keberanian untuk melawan orang-orang yang sangat aku sayangi itu? Aku juga heran dengan apa yang aku lakukan. Seharusnya beban berat yang selama ini harus aku bawa akan hilang ketika pohon itu roboh. Ternyata tidak. Hatiku tetap saja gusar. Bahkan hubunganku dengan orangtuaku semakin buruk, walaupun mereka sering mengajakku berbaikan. Pekerjaanku? Sama sekali kacau. Kemudian hari-hariku lebih sering aku habiskan untuk merenung.
Aku sama sekali tidak menyadari akibat dari sikapku akan menjadi masalah yang semakin besar. Tanpa aku ketahui awalnya, tiba-tiba saja aku mendengar bahwa orangtuaku dan Tante Yuli sedang bertengkar.
Aku mengira-ngira mungkin mereka bertengkar karena aku. Kemudian aku mencoba menghubungi Tante Yuli.” Apa Da? Kamu juga mau memusuhi tantemu ini? Oh ya, tentu saja ya? Kamu kan anak mereka.” Aku terkejut mendengar Tante Yuli menyebut orangtuaku dengan ‘mereka’. Bukankah selama ini, seumur hidupku orangtuaku dipanggil dengan panggilan ‘dik’. Seenaknya saja mereka menuduhku meracuni pikiranmu dengan takhayul murahan. Katanya aku yang membuat pikiranmu kacau akhir-akhir ini. Apa mereka tidak tahu, ha? Semua yang aku katakan itu memang benar. Kamu jadi perawan tua seperti itu kan memang benar. Sedang kamu juga menanam pohon kenanga di depan rumahmu juga benar kan? Lalu apa yang salah? Aku jelas tidak, apa yang mereka sebut takhayul juga tidak kan?”
Aku banting telepon seketika mendengar perkataan Tante Yuli yang dulu kuanggap baik itu. Aku tersinggung dan rasanya sakit sekali dihina seperti itu. Tiba-tiba muncul rasa bersalah dan menyesal pada kedua orangtuaku atas sikapku akhir-akhir ini. Dengan berlari aku menghampiri mereka dan bersimpuh sambil menangis meminta maaf.
Cahaya keluargaku kembali bersinar kembali seperti dulu. Saat-saat kami saling menyayangi dan memberikan pengertian yang penuh itu telah kembali. Aku juga mencoba memperbaiki sifat dan sikapku pada orangtuaku dan kembali menata pekerjaanku yang kukacaukan sendiri. Semuanya kembali berangsur-angsur membaik. Rasa puas dan bahagia menyelimuti hatiku.
Tapi…ternyata belum semuanya kembali seperti semula. Hubungan keluargaku dan Tante Yuli tetap buruk seperti bulan lalu. Dan itu berjalan hingga berbulan-bulan lamanya bahkan permusuhan kami tercium sanak saudara kami di desa embah.
Karena permusuhan itulah kami jarang dan akhirnya tidak pernah mengunjugi embah yang semakin tua di desa karena kami enggan jika nanti kebetulan bertemu satu sama lain di rumah embah dan akhirnya bertengkar disana. Berbagai usaha perdamaian dilakukan saudara yang lain, tetapi tetap saja keadaannya. Ternyata pertengkaran itu belum usai juga. Entah sampai kapan….
Tanpa aku ketahui. Di desa yang sangat sepi dan terpencil, seorang nenek yang semakin renta karena telah menyimpan puluhan tahun umur dalam dirinya sedang duduk di sebuah taman. Memandangi sebatang pohon kenanga yang berbunga lebat. Tampak kebencian ketika ia melihat pohon yang kini dianggapnya sebagai pembawa sial. Matanya benar-banar memantulkan sinar kebencian. Akan tetapi… beberapa saat kemudian muncul kesedihan yang amat sangat mengharukan segala jiwa dan badannya. Kesedihan yang telah dimilikinya sejak beberapa bulan yang lalu. Kesedihan yang disebabkan hanya oleh sebatang pohon kenanga di depan rumah.
By: Nurdiana Eka Novianjani
Label: Cerpen, Pohon Kenanga di Depan Rumah
Cerita Sebelumnya:
POHON KENANGA DI DEPAN RUMAH (Bagian 3)
Aku kembali ke rumah orangtuaku dengan membawa oleh-oleh khas desa yang dipaksakan embah untuk kubawa dan juga ingatan tentang takhayul pohon kenangan yang diceritakan tanteku. Entah mengapa tiba-tiba aku merenung-renungkan perkataan tanteku.
Di taman depan rumahku juga tumbuh pohon kenanga yang berbunga sangat lebat dengan pohon yang indah sekali. Kemudian aku melihat diriku sendiri. Usiaku sudah menginjak kepala dua dan berekor enam, ternyata benar-benar menbuatku kaget, 26 tahun? Memang usia yang layak untuk menimang seorang bayi. Tapi calon pendampingpun aku tidak punya, bahkan pacarpun sudah berapa tahun tidak aku miliki.
“Apa benar takhayul itu?”, pikirku. Aku begidik ngeri melihah diriku sendiri.” Jadi sekarang ini disampingku ada seorang Genderuwo?Seorang? Apa sebuah?”, aku masih sibuk dengan pikiran yang tidak penting itu.
Ternyata pikiran-pikiran itu masih menghantuiku pada hari-hari selanjutnya. Bahkan semakin menjadi saja. Perlahan-lahan aku tidak konsentrasi pada pekerjaanku dan kembali berpusat pada pohon kenanga. Sepertinya pikiran itu telah berakar pada otakku yang artinya sama saja dengan sulit dihilangkan.
Rutinitas hidupku berubah-ubah tidak menentu. Segalanya menjadi serba kacau. Karena pengaruh bunga yang menyihir gadis-gadis menjadi perawan tua itu.
Orangtuaku menyadari keadaanku yang sudah berubah.” Kamu kenapa Ida? Tiba-tiba saja sikapmu sangat berubah. Kamu tidak ceria seperti dulu bahkan sekarang kamu sering cemberut dan gampang marah. Dan itu lihatlah…”, ibuku menarikku ke depan cermin,” Kamu semakin kurus dan wajahmu juga pucat. Kamu sakit? Banyak tugas dari kantor? Atau ada hal lain? Ibu amati setelah kamu pulang dari Kampung Sekar sikapmu mulai berubah. Begitu kan Yah?” ayah mengangguk membenarkan.
Setelah aku berhasil mengatasi rasa keterkejutanku sendiri saat melihat perubahan diriku di cermin, aku terbata-bata berkata,” Yah. Aku ingin memotong pohon…pohon kenanga di depan rumah kita.” Kedua orangtuaku terkejut mendengar perkataanku yang mungkin di luar perkiraannya.
“Maksudmu apa Da?” ayahku terlihat keheranan sekali.
“Ayah lihat kan? Sekarang Ida masih belum menikah. Padahal Ida sudah dua puluh enam tahun, tidak muda lagi, Yah. Dan itu mungkin, eh bukan, pasti disebabkan oleh pohon kenangan di depan rumah kita. Menurut Tante Surabaya pohon kenanga yang ditanam di depan rumah bisa membuatku jadi perawan tua. Dan ternyata itu memang benar kan?”, aku menjawab sambil menahan isak tangis.
“Tante Yuli?”
“Iya. Kemarin Tante Yuli juga berlibur di Kampung Sekar. Kita harus memotong pohon kenanga itu Yah!”
“Ida… Ida. Itu kan cuma takhayul saja , Nak. Bukannya selama ini kamu tidak pernah percaya takhayul semacam itu? Coba kamu lihat pohon kenanga itu! Bunganya lebat dan harum, juga pohonnya sangat bagus. Tetangga kita juga banyak kan yang iri melihat kenanga kita. Bahkan setiap hari kamis, mbak Semi memberi kita uang untuk bunganya.” Ibuku dengan sabar menjelaskan keberatannya pada usulku yang mendesak itu.
“Apa Ibu lebih suka melihat anak Ibu tidak menikah daripada memepertahankan pohon kenanga itu? Juga baunya itu, justru malah itu yang bikin Genderuwo pada datang Bu!”, intonasi suaraku tiba-tiba meninggi dan akhirnya aku tidak dapat menahan tangis. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba Ida bisa secengeng itu?”
“Astaughfirullah…Naaak! Kok kamu ngomong begitu?” ayahku terlihat sedih mendengar perkataanku.
Aku hanya terdiam. Muncul rasa menyesal telah berkata seperti itu. Tapi gengsi juga menahanku unutk tidak meminta maaf pada orangtuaku. Tanpa aku sadari kakiku telah melangkah keluar dari rumahku menuju entah kemana. Tidak kuhiraukan lagi teriakan orangtua dan pandangan tetanggaku yang saling berbisik memperhatikan kami.
Keesokannya baru aku kembali saat ayah dan ibuku telah berangkat bekerja. Segera aku menuju gudang dan mengambil gergaji,” Ayah, Ibu, maafkan aku”, gumamku sambil mulai memotong pohon kenanga yang telah menyita pikiranku selama berhari-hari itu. Setelah pekerjaan itu selesai, akupun tertidur.
Label: Cerpen, Pohon Kenanga di Depan Rumah
Cerita Sebelumnya:
POHON KENANGA DI DEPAN RUMAH (Bagian 2)
Walaupun awalnya aku merasa cukup senang bisa bercakap-cakap dengan embah dan mengobati rasa rindu pada cucu-cucunya, aku tetap saja merasa bosan di tempat yang sepi ini. Aku adalah orang yang paling tidak bisa membuang waktuku percuma. Karenanya aku memaksa seorang sepupuku memancing di bendungan. Masyarakat desa itu menyebut tempat itu dengan ‘wadukan’. Mereka sering memancing disini karena begitu banyak ikan yang hidup bebas di bendungan yang dianggap cukup angker itu. Tidak ada seorangpun yang memiliki hak paten mengakui bahwa ikan-ikan itu adalah miliknya, walaupun pak RT adalah orang yang paling sering menyebar benih di wadukan.
Ketika tiga ekor mujair sebesar telapak tangan adikku yang paling kecil telah masuk ke dalam kaleng kami, seseorang memanggilku” Da… Ida! Ayo cepat pulang. Tante Surabaya dan mbak Lilin datang.” suara Pakdhe Nung. Aku terkejut mendengar mendengar suaranya yang tiba-tiba saja, tapi rasanya lebih terkejut lagi sewaktu mendengar berita yang dibawanya.
Segera kukemas peralatan pancing sederhanaku yang terbuat dari sebatang bambu dari ‘hasil kebun sendiri’. Buru-buru kutarik tangan sepupuku. Rasanya senang sekali kedatangan tamu dari kota.
“Aduh mbak Lilin ini kok ada-ada saja! Belum pantas. Lihat saja tingkahku yang masih seperti ini. Angin-anginan!”
“Da, kalau kamu hidup di desa ini pasti kamu sudah punya anak lima sekarang.” Semua orang tertawa mendengar perdebatanku dengan mbak Lilin tentang pernikahan yang harus segera aku pikirkan. Suasana di rumah embah yang sempit semakin ramai saja. Berbeda dengan tadi pagi yang membosankan.
Acara temu kangen keluarga memang selalu begini rasanya. Ramai. Saling berebut berceloteh menceritakan pengalaman masing-masing dan hal-hal lainnya. Yang dari kota sibuk menceritakan barang yang paling digemari abad ini melebihi rasa senang apabila diberi uang puluhan juta rupiah. Telepon genggam, atau orang-orang lebih simpel menyebutnya HaPe. Benda yang pada umumnya mempunyai ukuran tidak melebihi lebar telapak tangan. Sedangkan yang seumur hidup hanya tinggal di desa juga antusias menceritakan panen musim lalu yang sangat melimpah juga binatang ternak yang tahun ini jumlahnya telah dua kali lipat dari dua tahun yang lalu.
Hari ini benar-benar suasana yang menyenangkan setelah sekian lama aku mengalami kebosanan. Duduk-duduk bersama di taman yang indah milik nenekku dengan orang ‘kota’ yang ‘sepaham’ denganku dan mengerti apa yang aku bicarakan. Sedangkan nenekku, walaupun tidak mengetahui apa yang kami bicarakan, dengan bijaksana beliau selalu memperhatikan kami. Sesekali aku melirik, aku menyadari tatapan harunya pada kami. Ya, aku menyadarinya. Bagaimana nenekku tidak bahagia jika melihat anak cucunya begitu rukun seperti ini?
“Kenapa kenanga itu di tanam di situ!” tiba-tiba Tante Yuli yang kami panggil dengan Tante Surabaya mengeluh.” Untung disini tidak punya anak gadis, kalau iya… bisa jadi perawan tua dia!”
Aku masih tidak mengerti,” Kenapa Tante? Apa hubungannya?”
“Menurut orang-orang jaman dulu, orang yang menanam pohon kenanga di depan rumah, bisa bikin anak gadisnya tidak laku kawin. Katanya dikeloni Genderuwo!”jawab bibiku sambil menggigil.
Aku tertawa. Tanteku walau tinggal di pusat kota sebesar Surabaya, masih sangat percaya pada takhayul dan mitos.
“Ah, Tante, itu cuma takhayul!”, aku sama sekali tidak mempercayainya.
“Iya, bener Da. Itu memang benar tetanggaku saja sekarang jadi perawan tua, umurnya sudah 35 tahun tapi belum kawin-kawin?” mbak Lilin menyahuti.
“Iya Da!”, Tante Yuli bertambah yakin.
“Jodoh kan Tuhan yang menentukan, Tante, bukan pohon kenanga.”
Nenekku hanya tersenyum. Perdebatan pohon kenanga yang bisa menyebabkan perawan tua tetap berlanjut. Sampai perdebatan itu diakhiri karena waktu makan malam telah tiba, aku tetap tidak percaya pada takhayul itu
Tante Yuli dan anak perempuannya kembali ke Surabaya keesokan harinya, sedangkan aku segera menyusul pulang sehari kemudian, tetap dengan angkutan yang hanya beroperasi sekali dalam sehari.
Label: Cerpen, Pohon Kenanga di Depan Rumah
POHON KENANGA DI DEPAN RUMAH (Bagian 1)
“Ida, kenapa sih sesulit itu mengunjungi nenekmu? Kamu tidak merasa kasihan?”, wanita yang kupanggil ibu itu menghela nafas.” nenekmu itu sendirian di sana dan kalau kamu tahu, beliau sangat merindukanmu.”
Aku merasa memiliki argumen yang kurasa tepat untuk menjawab rajukan ibuku itu,” Kalau ibu merasa kasihan pada embah, kenapa tidak diajak tinggal bersama kita saja disini, Bu? Beres kan?”
“Kamu kan tahu sendiri embahmu itu. Mana rela meninggalkan kebun kopi dan ayam ternak juga kambingnya itu, nduk!” Ibu sewot saja menjawab.
“Aah…mbah..mbah…! Apa sih yang membuatnya seberat itu pada desa itu? Sepi, tidak punya ‘tetangga’. Transportasi juga, ya ampuuun…..sulitnya setengah hidup ,Bu! Aku pernah tahu temanku waktu pulang ke kampung halamannya dengan kereta api yang selalu harus memperhatikan jam, walaupun itu bisa 3 kali dalam sehari. Tapi kalau ke rumah embah, hanya ada satu jenis angkutan dan itupun hanya sekali dalam sehari. Disana juga tidak ada telepon. Ya kan Bu? Sekarang bagaimana? Masih tidak ada ya? Betapa terpencilnya. Aku sempat curiga apakah orang-orang di desa itu masih berkirim surat dengan merpati, Bu!”
Ibu mulai merasa sebal dengan asumsi konyolku” Sudahlah Da, jangan diperpanjang lagi. Dengarkan Ibu! Besok kamu tetap harus mengunjungi nenekmu. Kamu bisa mengambil cuti kantor yang tidak pernah kamu ambil kan?”
Alasan apapun kurasa tidak dapat mengubah keputusan beliau, jadi kuputuskan mengalah.” Ya Bu, okelah. Tapi hanya tiga hari, tiga hari tidak lebih!”, jawabku sambil berlalu mempersiapkan koper kecilku. Tiba-tiba ibu meneriakiku,” O ya Da, harusnya kamu masih bisa bersyukur karena di sana sudah ada listrik masuk desa haha…”
“Ah ya bu, tertawalah… untung di sana ada listrik masuk desa!” batinku sambil terus mengemasi barangku. Siang itu juga aku berangkat menginap di rumah Budhe Tatik. Agar besoknya bisa naik angkutan desa yang hanya beroperasi 1 kali dalam sehari. Tentu saja angkutan yang membawaku ke desa terpencil nenekku.
Esoknya sampai juga aku di rumah sederhana dimana ibuku dilahirkan, rumah mbah Surtinah. Seperti kebiasaannya sejak dulu, beliau menyambutku dengan bercucuran air mata.” Oalah nduuk…nduk. Sudah lama banget kamu nggak kesini. Kok tambah gedhe kamu ya?”.
“Ah embah sudah lupa ya kalau aku sudah 26 tahun sekarang?”aku membatin.
“Gimana kabar ibukmu? Huk..huk.. Mbahmu ini sudah kangen sama kalian, terutama kamu. Oalaah…Oalah..” tidak ada lagi yang diucapkan oleh mbah. Yang ada hanya air mata yang terus meleleh dari matanya. Sambil memelukku dan tiada henti-hentinya membelai punggungku.
Walaupun aku datang dengan terpaksa ke desa yang hanya ada jangkrik sebagai hiburan umum pada malam harinya ini, toh tetap saja aku merasa terharu dengan kerinduan nenekku. Akupun, tanpa kusadari telah ikut-ikutan terisak-isak dipelukan wanita bijaksana yang telah puluhan tahun menjanda itu.
“Alhamdulillah mbah, kami baik-baik saja. Maafkan Ida mbah, tidak pernah mengunjungi. Pekerjaan di kantor sangat banyak…”, aku memberikan alasan bohongku. Padahal di sela-sela hari libur kantorku aku masih bisa menyempatkan diri berkeliling Bali bersama teman-teman kantorku.” Bahkan Ida sering lembur di kantor mbah…” kutambahkan lagi alasan bohongku.
“Sudah nduk… nggak popo. Yang penting kamu sekarang sudah disini. Mbah sudah senang.”
Label: Cerpen, Pohon Kenanga di Depan Rumah